https://i2.wp.com/www.starwarsreport.com/wp-content/uploads/2012/11/clone-wars.jpg?w=616

istilah kloning-mengkloning di jagad permotoran indonesia ini memang cukup unik, dimana selalu terjadi pro dan kontra dan sampai parahnya seringkali kita dengar umpatan dan makian kepada pihak yang mengkloning. ter..laa…lluuuuuuuuuu …

Sebetulnya sangat disayangkan memang sampai terjadinya polemik ini, hingga desainnya ditiru mentah-mentah, tapi sebetulnya bisa  kita maklumi juga mengingat  pabrikan yang mengkloning merupakan brand baru (A) dan memberikan opsi harga lebih terjangkau di banding pabrikan lawas yang di kloning (B) .

Tapi sebagai konsumen  ada pula yang tidak terima, sampai sampai malu ketika naik motor B disangka motor A karena secara dimensi tampilan antara produk dari A dan B sangat mirip secara keseluruhan .

Mengkloning sebagai ajang pengenalan juga bisa dibenarkan, karena kita menggunakan desain brand B sebagai ajang perkenalan, dan karena tidak semua konsumen mampu  membeli harga produk dari si B, sehingga A memberikan opsi harga yang lebih terjangkau dengan desain sama tapi dengan msin berbeda tentunya.

terlepas bagaimana cara A sampai  berani melakukan hal ini kl saya pribadi sih g peduli ya yang penting A itu salah satu pabrikan sepeda motor yang mengerti dengan kebutuhan masyarakat Indonesia melalui sepeda motor pahenya dan yang perlu menjadi catatan A ini masih anak bawang , dengan segala keterbatasan ditengah gempuran produk kompetitor yang sudah serba canggih, serba bagus, dan serba-serba yang lain dia baru lahir.

istilahnya nih ibarat lomba rally yang lain udah nyampe di jakarta, A masih mulai perjalanan jadi masih panjang perjuangan yang harus dilalui, jadi metode ATM (ambil tiru modifikasi) seperti ini menurut saya wajar lah, istilahnya A ini masih tahap belajar nanti seiring berjalannya waktu A pasti bisa bikin desain sendiri.

Menurut  CXR sendiri, membangun sebuah produk yang benar-benar different dari yang lain memang bisa dikatakan susah bagi pabrikan A, karena proses RnD, dan tetek bengeknya tidak hanya butuh 1-10 tahun, mengingat dari segala aspek rangka (chasiss) mesin (engine), body desain dan tak lupa aftersales serta partsnya menjamin dan tersedia tidak lah gampang, oleh karena itulah ATM tersebut digunakan demi langsungnya proses penjualan, karena bisa menghemat biaya karena tidak perlu riset lebih mendalam dan dengan menggunakan parts ‘mirip’ pabrikan B dengan mudah konsumen bisa mengganti dan mencari parts dengan mudah.

Seiring perkembangan jaman tentunya hal ini lama-kelamaan juga bakalan di tinggalkan,  tentunya ketika A belajar dari pengalaman terdahulunya semakin bisa memberikan inovasi serta kreasi yang lain dan lebih maju lagi di bidang RnD -nya.

kalo sekarang sih masih maklum yang penting KEDEPANNYA itu lho A bisa mandiri atau tidak ? sehingga kasus seperti ini tidak perlu terulang lagi.

#beberapa kata merupakan cuplikan dari Bro Rubben CS 😀

 

 

 

Advertisements